Macet, Salah Siapa?

Kemarin, baru saja saya mengalami kemacetan panjang yang luar biasa. Kemacetan terjadi di ruas jalan Sawangan-Depok karena ada sebuah bus yang mogok di Parung Bingung, yakni pertigaan yang menghubungkan Parung-Cinere-Depok. Karena hal itulah, jelas kemacetan panjang tidak dapat terelakan. Bayangkan saja, saat saya lewat, kemacetan sudah terjadi sejak saya melewati Komplek BDN, dan terus hingga Arco Sawangan (saat itu saya sedang berada dalam perjalanan pulang dari Depok menuju rumah yang berada di daerah Cinangka, Sawangan). Harusnya perjalanan tersebut hanya memakan waktu sekitar 45 menit jika mengendarai motor, dan 60 menit saja jika memang jalan dalam kondisi padat. Namun kemacetan ini menjadikan waktu tempuh perjalanan menjadi 2 kali lipat, yakni 120 menit atau 2 jam perjalanan untuk tiba di rumah.

Bagi sebagian orang, ini adalah kali pertama mereka merasakan macet di daerah Sawangan dengan kondisi macet yang parah seperti itu. Namun untuk beberapa orang lainnya, hal ini mungkin sudah biasa, mengingat bahwa di beberapa jalan raya yang berada di kota besar Indonesia, terlebih Jakarta, sudah terkenal dengan kemacetannya.

Dari pengalaman itu, saya kemudian berpikir, benarkah hanya karena sebuah bus saja bisa menyebabkan kemacetan panjang? Bagaimana dengan kemacetan yang biasa terjadi di Jakarta? Apakah juga disebabkan bus kemacetan-kemacetan tersebut?

Banyaknya Kendaraan Pribadi

     Saya berpikir bahwa penyebab kemacetan yang paling utama adalah dikarenakan banyaknya kendaraan pribadi yang berada di setiap ruas jalan yang ada. Mungkin tidak akan bermasalah jika hal tersebut tidak berbanding terbalik dengan luas jalan yang disediakan untuk lalu lintas kendaraan. Saat ini, mungkin dapat dikatakan bahwa masing-masing orang memiliki minimal satu kendaraan pribadi. Baik itu berupa motor untuk setiap orang, atau mobil untuk masing-masing orang. Lihat saja orang-orang ber’duit’ di luar sana, satu keluarga yang misalnya hanya terdiri dari 4 orang anggota keluarga dapat memiliki lebih dari 4 kendaraan pribadi. Tidak bisa disalahkan karena mereka mempunyai hak atas uang mereka tersebut, tapi bisa kita lihat dampaknya sekarang pada jalan, bukan?

     Jalanan akan dipenuhi dengan mobil, dimana setiap mobil yang biasanya minimal dapat memuat 4 orang, kenyataannya hanya mengangkut 1 orang saja. Coba hitung berapa luas jalan yang ada, dibagi dengan luas mobil yang telah dikalikan dengan jumlah mobil yang ada. Jawabannya adalah “jalanan penuh’. Belum lagi motor, yang bahkan bisa dikatakan juga 1 orang dapat memiliki lebih dari 2 motor. Maka sudah dapat dipastikan jalanan akan menjadi lahan ‘adu klakson’ antar kendaraan atau sebut saja showroom outdoor.

Jalan Raya yang Semakin Menyempit

     Seperti yang telah disebutkan, bahwa perbandingan luas lahan yang disediakan untuk lalu lintas kendaraan, dengan kendaraan itu sendiri telah berbanding terbalik. Pemukiman warga, Pusat perbelanjaan, Perusahaan, dan bangunan lainnya semakin banyak didirikan yang akhirnya menjadikan lahan untuk lalu lintas kendaraan semakin menyempit. Lahan-lahan yang tersisa digunakan untuk kegiatan pembangunan, hingga akhirnya jalan raya menjadi tidak layak guna mengingat begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang setiap harinya.

Hilangnya Budaya Antri

     Tau hal apa lagi yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas? Ya, tepat sekali, Seperti sub-judul bagian ini, kemacetan terjadi karena hilangnya budaya antri. Sudah disebutkan bahwa kendaraan pribadi semakin banyak, jalan raya semakin menyempit, menjadi penyebab kemacetan. Hal tersebut akan semakin parah karena para pengguna jalan tersebut bersikap egois dimana mereka menyerobot, saling mendahului untuk cepat sampai pada tujuan. Pengguna jalan menggunakan ruas jalan pada arah yang berlawanan karena bersikap tidak sabar yang akhirnya, kendaraan dari arah berlawanan terhadang jalannya. Alhasil, kemacetanlah yang terjadi. Sudah jalannya sempit, kendaraannya banyak, dihalangi pula oleh orang-orang tanpa budaya antri tersebut. Semakin macet saja bukan?

Gang Kecil

     Sempat terlintas bahwa kemacetan juga terjadi karena banyak gang kecil sebagai jalan penghubung yang membuat pengguna jalan lebih cepaat sampai menuju tempat tujuannya. Karena banyaknya gang kecil tersebut, banyak pula pengguna jalan yang melewatinya sehingga kendaraannya banyak yang berbelok dan taraaa!!! kemacetan pun terjadi. Inti sebenarnya adalah banyak kendaraan yang berbelok tidak pada tempatnya sehingga ya itu tadi, jadi macet akhirnya. (maafkan saya gang kecil, saya tidak bermaksud untuk menyalahkanmu tetapi sepertinya kau membuat orang-orang itu ingin berbelok dan melewatimu, yang akhirnya, ya macet itu).

Kendaraan Umum Tanpa Jaminan

     Nah, untuk bagian kali ini, mungkin bukan penyebab langsung kemacetan terjadi. Banyaknya kendaraan pribadi yang berada di jalan raya saat ini bisa saja dikarenakan banyak orang yang tidak percaya dengan kendaraan umum saat ini. Bus, Angkot, Metormini, Kopaja, dan lainnya dianggap tidak memberikan jaminan hingga akhirnya orang-orang memilih untuk membeli kendaraan pribadi dan belajar mengendarainya. Orang-orang merasa takut untuk naik kendaraan umum melihat kejahatan yang terjadi di sekitar mereka sebagian besar terjadi pada kendaraan umum.

————————————————-

Nah, itu dia pemikiran saya selama ini. Hal-hal di atas saya anggap sebagai penyebab macetnya jalan raya. Bayangkan jika tidak terlalu banyak kendaraan pribadi, jalan raya diperluas, budaya antri diterapkan, gang kecil tidak menjadikan para pengendara berbelok sembarangan, dan kendaraan umum memberikan keamanan dan kenyamana pada para pengguna jalan, dapat dipastikan bahwa kemacetan tidak lagi menjadi hal yang biasa terjadi di negara ini.

Hal-hal tersebut saling berkaitan. Ada baiknya satu per satu kita cari solusinya dan juga kita terapkan bersama, untuk menjadikan jalan raya nyaman dilewati. Sudah banyak orang yang membahas mengenai kemacetan serta memberikan solusi terbaik. Namun butuh komitmen dan perubahan yang kontinyu agar dapat secara perlahan dapat mengatasi kemacetan.

Coba kita pecahkan satu per satu secara bersama. Diawali dari penerapan kebijakan untuk pengamanan kendaraan umum, orang-orang dapat beralih menggunakan kendaraan umum agar tidak terlalu banyak kendaraan pribadi yang berada di jalan. Lalu jika seandainya memang diharuskan menggunakan kendaraan pribadi, ajak teman satu tujuan agar satu kendaraan membawa muatan dengan kuota maksimal. Kemudian dapat dilakukan pembenahan tata kota sehingga jatah jalan raya menjadi lebih besar dan dapat menampung kendaraan yang ada. Berikutnya adalah budaya antri kita terapkan, bersabarlah dalam berkendara, jangan asal menyerobot hingga karena dapat menyebabkan arah berlawanan menjadi terhalang jalannya dan berujung pada kemacetan.

Saya pribadi adalah pengguna jalan yang menggunakan kendaraan pribadi (motor) dalam kegiatan sehari-harinya. Hal yang dapat saya lakukan adalah menerapkan budaya antri serta mengikutsertakan teman satu tujuan sehingga dapat mengurangi kemacetan. Saya berjanji akan menjadi pengguna jalan yang taat aturan agar pengguna jalan lain tidak merasa terbebani dengan kelalaian saya selama berada di jalan.

*Sekian opini saya mengenai kemacetan yang ada di sekitar kita. Mohon maaf atas kelancangan saya menyampaikan pendapat ini. Semoga ada manfaat yang dapat diambil. Terimakasih :)*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s