Hambatan dan Dukungan Menikah Muda

Postingan kali ini merupakan tugas dari Mata Kuliah ‘Teknik Penulisan Informasi’

*sebenarnya kurang maksimal, tetapi semoga tetap dapat bermanfaat*

PENDAHULUAN

Saat ini, menikah muda menjadi pembicaraan yang marak dibicarakan oleh masyarakat. Menikah muda telah menjadi fenomena yang sudah tidak asing lagi terjadi di sekitar kita. Secara sederhana, menikah muda merupakan pernikahan yang dilakukan pada usia yang terbilang muda. Dalam pelaksanaannya, menikah muda tidak dapat disepelekan begitu saja. Dibutuhkan persiapan yang matang sebelum akhirnya seseorang memutuskan untuk menikah muda. Dalam pelaksanaannya, tentu saja terdapat hambatan dan dukungan dalam menikah muda. Kedua hal tersebut dapat dijadikan landasan atau patokan untuk membuat pertimbangan bagi seseorang sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah muda.

Hambatan dari menikah muda merupakan hal-hal yang sekiranya akan dihadapi oleh seseorang, baik sebelum menikah muda maupun setelahnya. Dampak dari menikah muda bukan hanya terbatas pada proses sebelum pelaksanaan pernikahan, tetapi juga proses setelah pernikahan dilakukan. Seseorang yang memutuskan untuk menikah muda sebaiknya memperhatikan segala resiko yang mungkin akan terjadi, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi segala hambatan yang ada.

Bukan hanya hambatan, menikah muda juga didukung oleh beberapa hal. Berlainan dengan hambatan, dukungan dalam menikah muda terdiri dari hal-hal yang menjadi alasan kenapa seseorang diharuskan atau diperbolehkan menikah muda. Dukungan tersebut juga menjadi salah satu bentuk pertimbangan untuk meyakinkan seseorang untuk menikah muda.

Dalam tulisan ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai hambatan serta dukungan yang akan dihadapi ketika memutuskan untuk menikah muda, baik sebelum pelaksanaan menikah muda maupun setelah pelaksanaannya. Tulisan ini juga memaparkan definisi menikah serta usia ideal dari berbagai pandangan, agar dapat membantu pemahaman terkait dengan menikah muda. Isi dari tulisan ini merupakan gabungan dari berbagai pendapat mahasiswa Manajemen Informasi dan Dokumen angkatan 2010 kelas B mengenai pandangan mereka terkait dengan fenomena menikah muda.

BAB I
MENIKAH MUDA

1.1 Definisi Menikah
Pada dasarnya, menikah adalah suatu bentuk ikatan antara sepasang laki-laki dan perempuan untuk membangun sebuah keluarga atas dasar cinta. Akan tetapi, pengertian menikah tidak hanya terbatas pada pernyataan tersebut. Berdasarkan sudut pandang agama, menikah adalah salah satu bentuk ibadah. Dalam Islam, terdapat pernyataan yang berbunyi “belumlah sempurna agamamu sebelum engkau menikah”. Hal tersebut dimaksudkan bahwa menikah adalah bentuk ibadah dalam rangka menyempurnakan agama seseorang.

Menikah juga merupakan sebuah ikatan yang terjalin atas dasar cinta serta kuasa dari Tuhan. Setelah sepasang laki-laki dan perempuan menikah diharapkan nantiinya akan terbentuk sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrahmah. Pernikahan juga diharapkan menjadi sebuah janji diantara kedua pasangan tersebut yakni perjanjian seumur hidup atau perjanjian untuk membina ikatan hingga akhir hayat mereka nanti.

Secara sederhana, menikah juga dapa diartikan sebagai proses akhir pencarian cinta. Maksudnya adalah bahwa pernikahan menjadikan sepasang laki-laki dan perempuan memiliki ikatan yang sah dan menjadikan mereka membentuk sebuah komitmen untuk saling mencintai satu sama lain tanpa ada gangguan dari pihak lain terhadap hubungan tersebut. Pernikahan sebagai proses akhir pencarian cinta ini menjadi bentuk akhir dari hubungan cinta yang terbina antara laki-laki dan perempuan.

1.2 Definisi Menikah Muda
Dalam urusan pernikahan, terdapat istilah menikah muda. Hal ini sudah menjadi salah satu bahan pembicaraan yang sering terdengar di kalangan masyarakat. Sederhananya, menikah muda merupakan proses menikah yang dilakukan di usia yang tergolong muda. Usia pernikahan pada menikah muda adalah usia yang tergolong di bawah rata-rata dari usia menikah pada orang-orang pada umumnya.

Menikah muda juga merupakan sebuah tindakan yang perlu keberanian karena usia mereka yang terbilang belum memasuki usia rata-rata dari orang yang menikah pada umumnya. Keberanian tersebut mencakup keberanian secara fisik, mental, serta finansial dari pasangan yang menikah tersebut.

1.3 Usia Ideal Menikah
Sebelum masuk pada jenjang pernikahan, perlu diperhatikan usia dari pasangan yang akan menikah tersebut. Menurut masyarakat pada umumnya, usia ideal untuk seseorang menikah berkisar antara usia 24 tahun hingga 27 tahun. Untuk perempuan, usia ideal dimulai setelah ia memasuki usia 24 tahun, sedangkan untuk laki-laki dimulai setelah ia memasuki usia 27 tahun. Hal ini didasari pada anggapan masyarakat bahwa pada kisaran usia yang demikian seseorang dianggap pantas untuk melakukan pernikahan.

Usia 24 tahun dianggap ideal untuk perempuan, karena pada usia tersebut perempuan sudah dapat dikatakan memiliki sikap dan pemikiran yang dewasa serta kematangan pengalaman dalam hidupnya. Sedangkan usia 27 tahun dianggap ideal untuk laki-laki, karena pada usia tersebut laki-laki sudah dapat dikatakan memiliki kedewasaan serta kematangan khususnya dari sisi finansial karena setelah menikah merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin dan penganggung jawab dalam keluarga. Oleh karenanya, jika ada yang menikah di bawah usia 24 tahun bagi perempuan dan usia 27 tahun laki-laki, dapat dikatakan bahwa mereka menikah muda. Beralih kepada segi agama, usia ideal ditentukan ketika perempuan dan laki-laki sudah berada kondisi baligh (dewasa). Namun dari segi pemerintah, usia ideal menikah dimulai pada usia 17 tahun karena seseorang dianggap telah dewasa ketika memasuki usia tersebut.

BAB II
HAMBATAN MENIKAH MUDA

Dalam menikah muda, terdapat sejumlah hambatan yang harus dihadapi oleh seseorang yang memutuskan menikah muda. Ada baiknya sebelum memutuskan untuk menikah muda, seseorang tersebut memperhatikan beberapa hal yang sekiranya akan menjadi hambatan terlaksananya menikah muda tersebut. Hambatan yang akan dihadapi bukan hanya hambatan dari diri pribadi, tetapi juga dari pihak keluarga.

2.1 Hambatan Dari Diri Pribadi
Hambatan dari diri pribadi dapat dilihat dati beberapa hal yakni mental, fisik, dan finansial. Pertama, dari segi mental, seseorang harus mampu memahami kondisi mental pribadi sebelum memutuskan menikah muda. Ia harus dapat memikirkan kemungkinan masa depan apakah ia siap menghadapi biduk rumah tangga atau tidak. Mental seseorang terkait erat dengan sikap dewasa serta tanggung jawabnya. Ia harus mempersiapkan diri untuk mampu menyikapi pernikahan secara dewasa dan mampu bertanggung jawab atas hak dan kewajibannya sebagai seseorang yang sudah menikah terlebih di usia yang terbilang muda.

Mental seseorang yang tidak dibekali dengan persiapan yang matang dalam menghadapi pernikahan dapat menyebabkan ketidakharmonisan dalam pernikahannya kelak. Mental yang belum terbangun secara dewasa memungkinkan seseorang untuk mengambil tindakan secara sembarang sehingga berdampak buruk pada ikatan pernikahannya dengan pasangannya. Mental seseorang inilah yang kemudian dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan menikah muda pada seseorang jika tidak dipersiapkan dengan matang.

Kedua, dari segi fisik, seseorang harus mempersiapkan diri secara fisik untuk menghadapi pernikahan muda. Persiapan fisik ini dimaksudkan pada kondisi biologis seseorang. Berdasarkan pernyataan pada bidang kedokteran, kondisi biologis pada rahim perempuan di usia kurang dari 22 tahun belum mencapai tingkat kematangan. Kondisi rahim yang belum matang tersebut memungkinkan kondisi bayi yang sedang dikandungnya akan mengalami kecacatan ketika lahir nanti.

Untuk itu, seseorang yang memutuskan untuk menikah muda khususnya pada perempuan, diharapkan memeriksakan kondisi fisiknya terlebih dahulu karena resiko yang akan dihadapinya sangat besar. Sama halnya dengan kondisi mental seseorang, kondisi fisik membutuhkan kesiapan yang matang. Fisik yang tidak dipersiapkan dengan baik merupakan bentuk hambatan pada seseorang yang memutuskan untuk menikah muda.

Ketiga, dari segi finansial, seseorang yang akan menikah muda tentunya akan dihadapi dengan keadaan keuangan untuk menjalani rumah tangga mereka. Kondisi finansial atau kondisi keuangan merupakan bentuk hambatan dalam menikah muda karena pada usia yang terbilang muda, jarang sekali seseorang memiliki penghasilan yang cukup untuk membina kondisi rumah tangganya. Pada pasangan yang menikah muda, mereka harus mempersiapkan kondisi finansial mereka agar dapat menjaga keberlangsungan rumah tangga. Istilah yang sering digunakan masyarakat ketika menanggapi fenomena menikah muda adalah “mau dikasih makan apa anak saya kalo gak ada duit? cinta doang gak bikin kenyang”.

Dari pernyataan tersebut, kondisi finansial atau keuangan seseorang yang menikah muda harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelumnya. Persiapan keuangan yang tidak matang akan menjadikan hubungan pernikahan pada pasangan muda tersebut akan memburuk. Karena kondisi finansial ini sangat berpengaruh dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Kondisi mental, fisik, dan finansial merupakan tiga hal yang berkaitan satu sama lain. Ketiga hal tersebut menjadi hambatan ketika belum dipersiapkan dengan baik dan matang sebelum memutuskan untuk menikah muda. Karena memang pada dasarnya, menikah muda memiliki resiko yang cukup besar sehingga persiapannya membutuhkan kematangan yang juga besar sehingga pasangan yang menikah tersebut dapat menghadapi resiko yang akan ditemuinya kelak.

2.2 Hambatan Dari Keluarga
Bukan hanya hambatan dari diri pribadi, tetapi juga hambatan dari pihak keluarga akan dihadapi seseorang yang memutuskan untuk menikah muda. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan saudara, baik kakak maupun adik, akan memberikan pengaruh terhadap keputusan seseorang yang memilih untuk menikah di usia yang terbilang muda. Pihak keluarga dapat menjadi hambatan karena tanpa persetujuan mereka, pernikahan yang berlangsung tidak dapat berjalan dengan lancar.

Keluarga merupakan pihak penting dalam melangsungkan pernikahan. Tanpa persetujuan dari mereka, pelaksanaan pernikahan akan terhambat. Alasan dari pihak keluarga yang menghambat keberlangsungan pernikahan pada anggota keluarganya yang memutuskan untuk menikah muda adalah karena dirasa ia masih belum terbilang dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri. Pihak keluarga khawatir pada resiko yang akan muncul pada pernikahan muda yang akan dihadapi oleh salah satu anggota keluarganya.

Persetujuan dari pihak keluarga ini kemudian dapat dikategorikan menjadi bentuk hambatan karena tanpa persetujuan tersebut maka pernikahan tidak akan terlaksana. Hambatan ini juga harus diperhatikan dengan baik oleh seseorang yang sudah bertekad untuk menikah muda. Karena pernikahan dapat terhambat sebelum adanya persetujuan dari pihak keluarga.
Dalam hal ini, seseorang harus dapat meyakinkan pihak keluarga akan pelaksanaan pernikahan muda tersebut. Ia juga harus mempersiapkan segala resiko yang akan dihadapi sehingga pihak keluarga dapat merasa aman dan memberikan persetujuan kepadanya sehingga pernikahan dapat terlaksana.

BAB III
DUKUNGAN MENIKAH MUDA

Menikah muda juga memiliki dukungan dalam pelaksanaannya. Menikah muda dapat terlaksana jika didukung pada persiapan yang matang. Pertama pada segi mental, fisik, dan finansial. Ketiga hal tersebut jika tidak dipersiapkan dengan matang akan menjadi hambatan dalam pelaksaan menikah muda. Sebaliknya, jika hal tersebut telah dipersiapkan dengan matang maka akan menjadi bentuk dukungan dalam pelaksanaan menikah muda. Mental yang matang dalam menghadapi kondisi rumah tangga kelak, fisik yang matang untuk menghadapi pernikahan, serta finansial yang juga matang serta cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga setelah pernikahan, akan menjadi bentuk dukungan sehingga menikah muda dapat terlaksana.

Kedua adalah persiapan dalam menghadapi resiko di masa depan. Jika seseorang yang telah memutuskan untuk menikah pada usia muda telah mempersiapkan untuk menghadapi resiko dari pernikahan muda tersebut, maka ia dapat segera melangsungkan pernikahan. Ia harus dapat mempertanggungjawabkan segala hal yang terkait setelah ia menikah muda. Ia harus dapat menghadapi kondisi dengan pola pikir yang dewasa sehingga segala permasalahn yang dihadapi dapat menemui jalan keluarnya.

Selain itu, dukungan yang ada juga memberikan dampak positif bagi seseorang yang melaksanakan menikah muda. Pertama adalah terhindar dari maksiat. Menikah muda menjadikan kedua pasangan memiliki ikatan yang halal berdasarkan sudut pandang agama. Hubungan pada mereka yang sudah menikah terbilang sah sehingga hubungan tersebut tidak dikhawatirkan akan menyebabkan dampak negatif.

Maksudnya adalah bahwa hubungan antara perempuan dan laki-laki yang belum terikat pada pernikahan cenderung akan terjerumus pada perbuatan maksiat. Misalnya saja, melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, masih banyak perempuan dan laki-laki yang berhubungan layaknya suami istri tanpa terikat hubungan pernikahan yang hal tersebut merupakan bentuk dari tindakan maksiat. Untuk itulah disarankan agar perempuan dan laki-laki tersebut segera melangsungkan pernikahan agar terhindar dari perbuatan maksiat.

Kedua, dengan menikah muda seseorang akan menuju pada perubahan diri yang lebih baik. Seperti yang kita tahu bahwa menikah muda membuthkan persiapan yang matang. Menikah muda membutuhkan pemikiran yang dewasa serta tanggung jawab yang besar untuk membina rumah tangga mereka kelak. Dari menikah muda tersebut, maka seseorang yang menikah muda akan terus memperbaiki diri dan mengubah diri menjadi lebih baik. Dengan menikah muda maka seseorang akan menuju perubahan diri yang lebih baik sehingga kelak akan dihasilkan generasi yang lebih baik pula.

KESIMPULAN

Menikah muda merupakan bentuk ikatan antara sepasang laki-laki dan perempuan yang kelak akan membangun dan membina keluarga bersama, pada usia mereka yang terbilang muda. Menikah muda atau menikah pada usia muda dapat dikatakan demikian karena pasangan menikah tersebut menikah pada usia yang tergolong pada usia di bawah rata-rata orang yang menikah pada umumnya.

Dalam pelaksanaannya, menikah muda akan dihadapi pada sejumlah hambatan maupun dukungan. Pertama, seseorang akan menghadapi hambatan baik dari dalam diri pribadi maupun dari pihak keluarga. Hambatan tersebut merupakan hal-hal yang menjadikan menikah muda tidak dapat terlaksana. Hambatan dari diri pribadi terdiri dari persiapan yang belum matang dari segi mental, fisik, dan finansial. Sedangkan hambatan dari pihak keluarga merupakan bentuk ketidaksetujuan pada pernikahan muda tersebut.

Dukungan pada menikah muda merupakan hal yang menjadikan pernikahan muda tersebut terlaksana. Dukungan ini berlawanan dengan hambatan yang akan dihadapi pada pernikahan muda. Persiapan yang justru dipersiapkan dengan matang dan baik akan menjadi bentuk dukungan sehingga menikah muda dapat terlaksana. Dukungan lain adalah pada persiapan ketika kelak akan menghadapi resiko yang muncul setelah menikah muda. Dengan adanya dukungan pada menikah muda, maka seseorang dapat melaksanakan pernikahan tersebut.

Dukungan yang menjadikan terlaksananya menikah muda membawa pada sejumlah keuntungan. Dengan terlaksananya menikah muda, maka pasangan akan dihadapi pada keuntungan yakni hubungan mereka akan terhindar dari perbuatan maksiat. Dan juga, dengan menikah muda maka seseorang akan menuju pada perubahan diri yang lebih baik.

Dari hal-hal di atas, dapat disimpulkan bahwa menikah muda dapat terlaksana jika seseorang dapat mempersiapkan diri dengan matang dan telah mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan sehingga kedua pasangan tersebut dapat mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka.

One thought on “Hambatan dan Dukungan Menikah Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s